Jumat, 04 Juni 2010

Eksegese Efesus 2:11-22

I. Pendahuluan
Setelah Tuhan Yesus naik ke Surga, para pengikutnya bertambah banyak dari hari ke hari. Kebanyakan dari yang percaya adalah orang Israel yang jelas berlatar belakang agama dan suku bangsa Yahudi. Jadi jelas, orang Kristen pertama adalah yang berasal dari keturunan Yahudi. Namun sejalan dengan perkembangan Injil, orang-orang non Yahudi kemudian termasuk dalam gereja. Hal itu yang menjadi masalah dan kitab Kisah Para Rasul mencatat pergumulan berat yang dihadapi orang-orang Yahudi untuk menerima orang-orang non Yahudi. Orang-orang Yahudi telah memiliki konsep bahwa mereka adalah umat yang kudus, umat pilihan Allah. Jadi sukar bagi mereka untuk menerima orang non Yahudi masuk ke dalam komunitas mereka. Mereka bahkan menganggap najis untuk masuk ke dalam rumah orang non Yahudi. Kebanyakan dari orang Yahudi bersedia menerima orang non Yahudi dengan syarat mereka mau mengikuti tata cara Yahudi seperti sunat dan hukum-hukum lainnya. Petrus juga sempat menyetujui hal ini. Hal ini tercatat di dalam surat Galatia dan Paulus menegur Petrus karena hal ini.
Persoalan di atas nampaknya dipahami dengan benar oleh jemaat non Yahudi sehingga timbul kebingungan juga di antara mereka apakah harus mengikuti kebiasaan orang Yahudi (menjadi proselit) atau tidak. Rasul Paulus kemudian segera memberi respon kepada jemaat yang umumnya berlatar belakang dari agama kafir. Ia khawatir jika hal itu dapat menimbulkan masalah. Itulah sebabnya di dalam salah satu suratnya ia merasa perlu membahas tentang persatuan orang Yahudi dan non Yahudi. Salah satu surat Paulus yang menekankan hal ini adalah surat Efesus. Salah satu pesan sentral surat ini adalah bahwa Kristus telah melakukan rekonsiliasi antara jemaat Yahudi dan non Yahudi ke dalam satu tubuh melalui karyaNya di kayu salib. Makalah ini bertujuan menganalisa perikop Efesus 2:11-22 untuk mengetahui respon Paulus dan alasan penerimaan orang non Yahudi sebagai anggota kerajaan Allah. Surat Efesus 2:11-22 ini adalah bagian yang membahas tentang penyatuan (inklusio) orang non Yahudi dengan orang Yahudi.

II. Persatuan Antara Orang Yahudi dan Non Yahudi Di Dalam Kristus Menurut Efesus 2:11-22

II.1 Sekilas Tentang Kota Efesus
Efesus adalah pelabuhan di mulut sungai Cayster, di pantai Barat Asia kecil. Efesus adalah kota terbesar keempat dalam wilayah kekaisaran. Paulus mengambil banyak keuntungan dari lalu-lintas yang tak pernah henti ini untuk menyeberang ke Korintus. Efesus adalah kota yang multi etnis. Orang-orang non Yahudi yang berada di kota itu terdiri dari berbagai etnis seperti Anatolians, Mesir, Romawi, Persia, Siria, dan lain-lain. Efesus merupakan markas besar Paulus selama berlangsungnya surat-menyurat dengan jemaat Korintus (1 Kor. 16:8).
Surat Efesus paling banyak menekankan tentang kesatuan gereja dibandingkan dengan tulisan Perjanjian Baru lainnya. Di dalam surat-suratnya, rasul Paulus banyak memakai istilah gereja dalam bentuk singular bagi perkumpulan individual (individual congregation), atau totalitas orang percaya di dalam suatu area geografis. Akan tetapi ketika tiba pada surat Kolose dan Efesus, gambaran tersebut berubah. Di dalam surat Efesus, istilah ini dipakai sembilan kali dan dalam setiap bagian tersebut selalu menunjuk kepada gereja secara keseluruhan (the church as a whole) dan bukan untuk perhimpunan individual (individual congregation).
Menurut Marshall, konsentrasi utama dari surat Efesus adalah hubungan antara orang Yahudi dan non Yahudi di dalam gereja. Orang-orang Yahudi memisahkan diri mereka dari bangsa yang non Yahudi oleh karena fakta bahwa mereka adalah orang-orang yang disunat-tanda perjanjian mereka dengan Allah. Status ini menjadi kebanggaan bagi orang Yahudi dan mereka menyebut orang non Yahudi sebagai bangsa tak bersunat. Dari perspektif Paulus sebagai orang Yahudi, dunia terbagi menjadi dua kelompok sosial yaitu Yahudi dan bangsa lain (ta ethne). Dia menulis suratnya dalam kapasitasnya sebagai rasul bagi orang non Yahudi dan ia ingin agar pembacanya mengetahui bahwa Allah telah merancangkan untuk membentuk umat yang baru, perpaduan dari dua bangsa tersebut.

II.2 Keadaan Orang Non Yahudi Yang Semula
2:11 Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu--sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya "sunat", yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia.
Bagian ini mulai dengan ajakan kepada orang Kristen kafir untuk ”mengingat” mnhmoneu,ete situasi mereka pada waktu dahulu, yaitu ketika mereka masih hidup terpisah dengan orang-orang Kristen Yahudi. Di dalam tradisi, mengingat biasanya meliputi sikap hati untuk melihat ke masa lalu apa yang Allah sudah lakukan dan akibatnya terhadap diri mereka pada masa kini. Kata Dio. (karena itu) menghubungkan bagian ini dengan bagian yang lalu (2:1-10). Hal ini menggambarkan kerusakan universal dari manusia dan anugerah penebusan dari Allah. Yang pertama harus mereka lakukan ialah mengingat situasi mereka pada waktu yang silam dan pada waktu ini. frase ta. e;qnh evn sarki menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar orang nonYahudi, tetapi ”non Yahudi di dalam daging.” frase ”di dalam daging” merujuk kepada keadaan mereka sebelum mereka ”di dalam Kristus.” Terlebih lagi mereka dianggap rendah dengan sebutan ”tak bersunat.” Bagi orang Yahudi, sunat adalah tanda kekhususan mereka sebagai umat Allah. Fakta bahwa orang Yahudi harus disunat telah diketahui secara umum. Jadi orang non Yahudi tidak termasuk dalam kewarganegaraan Israel. Oleh karena itu, mereka tidak turut menikmati hak istimewa dari Allah, khususnya yang mengandung keselamatan di dalam Kristus. Mereka juga tidak mempunyai pengharapan dan tanpa Allah. Demikianlah situasi mereka pada masa silam, miskin dan gelap.
2:12 Bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia
Kata sambung o[ti memiliki maksud untuk mempertegas apa yang dinyatakan sebelumnya. Paulus berharap orang-orang non Yahudi kembali melakukan introspeksi dan refleksi terhadap keadaan mereka sebelum mereka menjadi orang Kristen. Pada ayat 12, Paulus memperlihatkan lima pernyataan yang menunjukkan bahwa orang-orang non Yahudi pada mulanya tidak memiliki hubungan dengan Allah dan janji-janjiNya. Mereka waktu itu ”tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.” Dalam semua pernyataan ini, orang-orang bukan Yahudi berbeda dengan orang Yahudi karena mereka tidak menikmati semua hal yang telah dinikmati oleh orang-orang Yahudi. Pertama, tanpa Kristus. Orang-orang non Yahudi tidak hanya terpisah dari Yesus secara personal, tetapi mereka bahkan tidak memiliki pengharapan nasional terhadap Mesias seperti yang dimiliki oleh orang-orang Yahudi. Salah satu hak istimewa yang menurut Paulus dimiliki oleh orang Yahudi adalah bahwa Mesias akan lahir dari garis keturunan Yahudi (Rom. 9:4-5). Mesias ini yang akan membebaskan mereka dari musuh-musuh mereka. Ketidakmampuan kedua dan ketiga dari orang non Yahudi agak mirip yaitu tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan. Frase ” tidak termasuk kewargaan Israel” seharusnya diterjemahkan ”terpisahkan dari kewargaan Israel.” Situasi keterasingan ini bukan soal keasingan politik , melainkan keasingan dari situasi keselamatan. Ungkapan kewargaan (politeia) berkaitan dengan kewarganegaraan Romawi (Kis 22:25). Tapi di sini ungkapan itu berkaitan dengan kewargaan dalam kerajaan Allah. Kerajaan Allah itu yang warganya mencakup semua bangsa dan diperintah oleh Allah sendiri, mengganti teokrasi bangsa Israel zaman PL. Israel adalah satu bangsa di bawah kuasa Allah, dan umat PerjanjianNya. Tetapi non Yahudi berada di luar perjanjian itu. Ketidakmampuan keempat dan kelima secara gamblang dikemukakan, yaitu tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. Frase ”tanpa Allah di dalam dunia” merupakan puncak dari kekurangan orang non Yahudi. Dari kata ”ateos” ini kemudian terbentuk kata ”ateis.” umat non Yahudi atheoi bukan karena tidak mempunyai dewa (dewanya malah terlalu banyak), melainkan adalah karena mereka tidak mengenal dan memiliki Allah yang benar. Di samping tidak mengenal Allah, mereka juga telah menindas kebenaran.

II.3 Pendamaian Oleh Darah Kristus (2:13-18)
Selanjutnya dalam 2:13-18 dikatakan bahwa ada perdamaian dari perseteruan itu oleh darah Kristus. Pada bagian ini Paulus menguraikan perubahan status yang terjadi atas diri orang-orang non Yahudi setelah mereka bertobat dan menjadi anggota kerajaan Allah.
2:13 Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat " oleh darah Kristus.
Tetapi sekarang (nuni. de.): situasi yang dahulu tidak ada lagi. Mereka sekarang hidup dalam situasi yang lain, situasi yang sama sekali baru. Suatu perubahan yang dramatis. Mereka sekarang berada di dalam Kristus, suatu hal yang sangat kontras dengan keadaan sebelumnya. Kristuslah yang menciptakan perubahan situasi tersebut. Oleh Dia- atau lebih tepatnya, oleh darahNya- mereka yang dahulu “jauh“, sudah menjadi “dekat.“ Di dalam Perjanjian Lama, pengertian “jauh” dan “dekat” biasanya dipakai untuk orang-orang Israel yang jauh dari dan dekat kepada Allah (Yes. 57:19; Dan. 9:7; Est. 9:20). Tetapi kadang-kadang hal itu menyatakan perbedaan hubungan antara orang-orang Israel dengan bukan Israel. Darah Kristus menunjuk kepada karya penebusan Kristus. Bagian ini paralel dengan Ibrani 10:19-22 di mana orang percaya dapat masuk ke tempat kudus oleh darah Kristus dan menjadi “dekat“ dengan Allah. Janji itu dipenuhi dalam Yesus Kristus. Ayat 13 mengemukakan dua hal penting yang mengacu kepada Kristus. Dikatakan bahwa kedekatan yang sekarang kepada Allah terjadi di dalam Kristus, dan oleh darah Kristus. Darah Kristus berarti kematianNya di kayu salib sebagai korban penghapus dosa manusia, yang mendamaikan manusia dengan Allah dan manusia dengan sesamanya. Di dalam Kristus berarti adanya kesatuan pribadi dengan Kristus yang dapat dialami kini dan di sini.
2:14 Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,
Akan tetapi sekarang tidak ada perbedaan karena tembok pemisah telah dirubuhkan oleh Kristus (ayat 14). Perbedaan itu, menurut Paulus, tidak ada lagi sekarang: choris Christou (tanpa Kristus) telah diganti menjadi en Christoi (di dalam Kristus). Kristus telah datang dan menghancurkan tembok pemisah yang memisahkan Yahudi dan non Yahudi. Hal itu diungkapakan dengan kata “satu tubuh” di mana Injil mengabarkan bahwa yang dahulu jauh telah dekat. Itu menjadi dasar bagi Yahudi maupun non Yahudi untuk mendapatkan jalan masuk kepada Allah melalui Roh Kudus. LAI menerjemahkan frase ho poiesas ta amphotera hen menjadi “Ia telah mempersatukan kedua pihak” akan tetapi terjemahan yang lebih tepat adalah “Ia telah membuat keduanya menjadi satu.” Kemudian dalam ayat kelima belas menunujukan bahwa perbedaan antara kedua belah pihak ini ditiadakan oleh Kristus, sehingga mereka menjadi satu. Konsepsi Paulus mengenai kesatuan meliputi kesatuan spiritual dalam Kristus di mana tidak terdapat perbedaan dalam hubungan dengan Allah. Melalui karya Kristus, orang-orang bukan Yahudi dan orang Yahudi bersama-sama telah memasuki suatu hubungan baru yang akrab dengan Allah.
Bagian yang menarik untuk diperhatikan adalah arti dari kata “tembok pemisah.” Di dalam bait Suci di Yerusalem, orang non Yahudi dan orang Yahudi dipisahkan oleh pilar setinggi 37 kaki. Orang non Yahudi teralienasi (terasingkan) dari Yahudi. Bahkan lebih buruk lagi, alienasi yang dilambangkan oleh tembok pemisah di Bait Suci itu menyebabkan perseteruan (ekhtra). Orang non Yahudi dilarang masuk ke bait suci, melainkan tinggal disebuah tempat/halaman (court). Tempat ini disebut dengan lapangan orang non Yahudi (the Court of the Gentiles). Hal itu nampak jelas tertulis pada pagar pembatas di bait suci yang berbunyi: “No man of another race is to enter within the fence and enclosure around the temple. Whoever is caught will have only himself to thank for the death which follows.” Hal ini mengingatkan orang-orang non Yahudi untuk menjaga jarak mereka dari tempat suci orang Yahudi. Suatu larangan keras yang yang memiliki konsekuensi yang berat, kematian. Menurut Abineno yang mengutip pendapat Markus Barth, ada empat kemungkinan arti dari tembok pemisah ini yaitu:
1. Tembok dalam taman Bait Allah yang memisahkan pengunjung yaitu orang-orang kafir dengan orang-orang Yahudi yang beribadah di sana.
2. Tirai di dalam bait Allah di Yerusalem yang memisahkan antra ruang maha kudus dengan ruang kudus (Kel. 26:33).
3. Segala pemerintah, penguasa dan kuasa gelap seperti yang disebut dalam Efesus 1:21. jadi ada suatu tembok perseteruan yang memisahkan manusia dari hidup di dalam Allah.
4. Hukum Taurat dengan segala peraturan dan tuntutannya, seperti yang dipakai oleh orang-orang Yahudi.

2:15-16 sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.
Menurut van Leeuwen dan Sprenkel, tembok pemisah yang dimaksudkan oleh Paulus dalam bagian ini bukanlah tembok secara fisik, melainkan hukum Taurat berdasarkan ayat 15 ini. Maksud Yesus membatalkan hukum tersebut adalah: pertama, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diriNya. Kata "manusia baru" mempunyai arti eskatologis, arti manusia baru ini ialah manusia yang sama sekali baru, manusia sebagai “ciptaan baru.” Manusia lama telah disalibkan bersama Kristus. Kedua, untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu (ayat 16). Karya keselamtan Kristus berarti bahwa Yahudi dan non Yahudi dipersatukan, karena kedua-duanya “diperdamaikan dengan Allah” (ayat 16). Itulah yang dikerjakan Kristus yaitu memusnahkan perseteruan dan membuka jalan kembali kepada Bapa. Di dalam Kristus, keduanya diperdamaikan dengan Allah. Perdamaian itu terjadi oleh salib.
Senada dengan itu, Tom Jacobs juga berpendapat bahwa pemisah itu disebabkan oleh Taurat. Sebab Taurat berarti bahwa orang Yahudi mempunyai gaya hidup dan persekutuan hidup yang mengkhususkan mereka sedemikian rupa sehingga mereka benar-benar terbedakan dengan semua orang lain. Waktu Paulus memandang hukum Taurat sebagai pemisah dan penyebab perseteruan antara kedua golongan, jelas Paulus tidak berpikir tentang hukum itu dalam keseluruhan maknanya. Sebaliknya, ia memfokuskan pada aspek-aspek hukum itu yang berdiri sebagai tembok pemisah antara orang-orang bukan Israel dan orang-orang Israeldan, aspek kutukan pada hukum Taurat sebagai tuntutan keadilan Allah yang telah memisahkan kedua golongan itu dari Allah.
2:17-18 Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang "jauh" dan damai sejahtera kepada mereka yang "dekat” karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.
Subyek pemberitaan itu ialah Yesus Kristus. Ia mengadakan damai sejahtera sebagaimana pada ayat 14 dikatakan bahwa “Dialah damai sejahtera kita.” Ayat 17 ini dikutip dari Yesaya 57:19 “Damai, damai sejahtera bagi mereka yang jauh dan bagi mereka yang dekat firman TUHAN.” Pada ayat 18 terdapat frase “jalan masuk.” Jalan masuk (prosagoge) sebenarnya berarti: pemasukan. Dalam dunia Yunani lama, kata ini dipakai baik untuk pembawaan kurban ke mezbah maupun untuk perjalanan ke tempat kurban. Paulus mengambil alih istilah ini dan memakainya dalam arti yang sama. Oleh salib (kurban) Kristus, Ia membuka jalan masuk kepada Bapa. Melalui Kristus, Allah dikenal sebagai Bapa dari orang-orang percaya. Sekarang Kristus telah membuka pintu dan ia adalah pintu itu. Baik orang Yahudi maupun non Yahudi telah menjadi satu keluarga sehingga mereka dapat memanggil Allah “Abba, Bapa!”, karena tidak ada perbedaan bagi mereka yang terlahir sebagai orang Yahudi maupun mereka yang terlahir sebagai orang non Yahudi.

II.4 Keanggotaan Non Yahudi di dalam Jemaat (19-22)
2:19 Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah.
Kata “demikianlah” menyatakan suatu konklusi dari apa yang telah dikatakan Paulus tentang situasi anggota-anggota jemaat di Efesus sebelum mereka bertobat, yaitu bahwa situasi itu sekarang telah berubah secara total. Mereka sekarang mempunyai hak dan kewarganegaraan yang sama dengan orang Yahudi Kristen. Di dalam ayat ini muncul dua istilah yaitu “orang asing” (xe,noi) dan “pendatang” (pa,roikoi). Kata “orang asing” merujuk kepada mereka yang semula berada di luar janji kovenan Allah sedangkan kata “pendatang” menggambarkan orang yang tinggal di tempat yang bukan rumahnya. Tetapi saat ini mereka semua adalah anggota keluarga Allah. Akan tetapi, persatuan yang dimaksud oleh Paulus bukanlah kesatuan yang menghilangkan semua perbedaan historis. Bahkan dalam hubungan dengan praktik sunat, Paulus tidak mempermasalahkan orang yang masih mempraktikkannya. Tetapi Paulus menolak jika orang tak bersunat diwajibkan untuk melakukan sunat. Setiap usaha oleh salah satu pihak untuk menghapuskan keadaan etnik dan budaya pihak yang lainnya akan berarti menghancurkan konsepsi khusus Paulus mengenai kesatuan antara orang-orang Yahudi dan orang-orang bukan Yahudi.
2:20 yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.
Kemudian Paulus juga mengatakan bahwa jemaat Efesus “dibangunkan atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus sebagai batu penjuru” (ayat 20). Kata dibangunkan ”epoikodometentes” di dalam bentuk aorist partisip pasif (dibangun) mengindikasikan bahwa Allah sendiri yang telah mendirikannya (divine passive). Para nabi dan rasul adalah dasar jemaat. Mereka yang pertama-tama memberitakan Injil Kerajaan Allah. Mereka adalah penerima dan pemberita wahyu dari Allah. Ditinjau dari sudut ini, mereka adalah dasar, di mana Kristus membangun jemaatNya. Tetapi bagian yang paling penting dari bangunan itu ialah batu penjuru (avkrogwniai/oj), yaitu Kristus. Ia yang memikul dan menghubungkan segala sesuatu. Dalam 1 Kor. 3:11 Ia disebut sebagai dasar (themelios) bangunan. Di zaman kuno, batu penjuru (cornerstone) adalah yang pertama kali ditaruh oleh tukang bangunan. Tukang bangunan secara hati-hati menaruh batu ini. Batu penjuru adalah batu yang terpenting dari seluruh bangunan. Watkiss Lloyd mengatakan: “the acrogoniaios here is the primary foundation-stone at the angle of structure by which the architect fixes a standard for the bearings of the walls and cross-walls throughout.” Jadi, gereja harus memiliki batu penjuru, yaitu Kristus yang olehnya gereja dapat berdiri dengan teguh dan kokoh.
2:21-22 Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.
Gereja ini harus bertumbuh di dalam Kristus dan di dalam Roh (ayat 21-22). Kata yang dipakai di sini bukan hieron melainkan naos. Kata naos muncul delapan kali di dalam tulisan-tulisan Paulus. Kata hieron menunjuk kepada bait suci Israel yang terdiri atas tiga pelataran yaitu pelataran bagi laki-laki Yahudi, bagi wanita Yahudi, dan bagi orang non Yahudi. Sementara itu istilah naos lebih merujuk kepada tempat kudus di mana Allah berdiam (dari kata naio yang berarti mendiami). Jadi naos adalah tempat kudus dan maha kudus (holy of holies). Jadi bangunan yang dimaksud dalam ayat ini adalah bangunan yang maha kudus, tempat Allah berdiam. Pada prinsipnya, tujuan bait Allah yang baru itu adalah sama dengan tujuan bait Allah yang lama, yaitu untuk menjadi tempat kediaman Allah. Memang orang Israel menyadari bahwa Allah tidak mendiami bait-bait yang didirikan manusia, bahkan alam semesta tidak dapat memuat Dia (1 Raj. 8:27). Akan tetapi Allah telah berjanji akan menyatakan kemuliaanNya (syekinah) di ruang dalam Bait Suci, sebagai lambang bahwa Ia berdiam bersama umatNya.
Dua hal yang patut diperhatikan adalah ayat 21 diakhiri dengan ”in the Lord” sedangkan ayat 22 diakhiri dengan ”in the Spirit” (atau terjemahan yang lebih akurat ”through the Spirit”). Ini untuk menekankan bahwa hanya pribadi Kristus dan kuasa Roh yang memampukan adanya tempat yang ideal tersebut. Tidak seorang pun dapat memiliki tempat yang kekal dari Allah kecuali jika dia menemukan hidup di dalam Kristus. Persatuan bukanlah sekadar masalah organisasi, tetapi saling berbagi sebagai satu tubuh, karena itu orang percaya harus diperingatkan akan bahaya sikap individualistis. Pada waktu Paulus menulis suratnya ini, di kota Efesus berdiri bait Dewi Artemis yang dibangun dengan menggunakan batu pualam. Pada waktu yang sama di Yerusalem telah berdiri bait Suci Yahudi bangunan Herodes Agung. Akan tetapi bait Suci ini menutup diri terhadap kemuliaan Allah. Jadi ada dua bait, Bait Suci Yahudi dan bait kafir, dan keduanya kosong-tanpa kehadiran Allah yang hidup. Realitasnya memang demikian karena sekarang ada bait yang baru, tempat kediaman Allah di dalam Roh.

III. Kesimpulan
Melalui surat Efesus, nampak jelas Paulus menekankan pentingnya persatuan di dalam tubuh gereja karena bila gereja terpecah karena perbedaan yang ada, maka hal itu sama sekali tidak berguna. Gereja adalah persekutuan orang-orang percaya yang di dalamnya tidak ada lagi pembedaan meskipun adanya perbedaan merupakan realitas yang tidak dapat dipungkiri. Gereja adalah tubuh Kristus. Semua anggota gereja, baik orang Yahudi maupun non Yahudi dipersatukan oleh kasih Kristus dengan darahnya yang kudus. Gereja dipanggil menjadi alat Tuhan yang menyaksikan kasih Kristus di tengah dunia. Benarlah peribahasa yang mengatakan bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Paulus menyadari benar akan hal ini. Gereja seharusnya menghargai perbedaan. Paulus melihat dan menggambarkan keragaman sebagai dasar untuk membentuk satu kesatuan. Keragaman dalam jemaat bukan untuk membuat anggota jemaat membandingkan diri satu dengan yang lain, bukan juga untuk menciptakan persaingan dan perpecahan, melainkan membentuk kesatuan yang dianalogikan sebagai satu tubuh Kristus. Tugas Gereja, yakni bersekutu, bersaksi dan melayani akan semakin bertumbuh dan berkembang jika seluruh umat Kristen tidak mempersoalkan perbedaan-perbedaan yang ada namun memaknai perbedaan itu sebagai satu kekuatan yang sangat berguna bagi orang lain. Dan pada akhirnya, gereja yang sejati adalah gereja yang meletakkan Kristus sebagai batu penjuru, penopang yang membuat ”bangunan” tersebut dapat kokoh berdiri.









Daftar Pustaka
Abineno, J. L. Ch. Tafsiran Alkitab: Surat Efesus. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997.

Arnold, Clinton E. Zondervan Illustrated Bible Backgrounds Commentary Volume 3. Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2002.

Browning, W. R. F. Kamus Alkitab: Panduan Dasar Ke Dalam Kitab-Kitab, Tema, Tempat, Tokoh, dan Istlah Alkitabiah. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008.

Bruce, F. F. The Epistle to the Collosians to Philemon and to the Ephesians, The New International Commentary On The New Testament. Grand Rapids, Michigan: Eerdmans Publishing Company, 1988.

Feinberg, John S. Masih Relevankah Perjanjian Lama di Era Perjanjian Baru? Malang: Gandum Mas, 2003.

Foulkes, Francis. The Epistle of Paul to the Ephesians: Tyndale New Testament Commentaries. Grand Rapids, Michigan: Eerdmans Publishing Company, 1979.

Gorman, Michael J. Apostle of the Crucified Lord: A Theological Introduction to Paul and His Letters. Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 2004
Hoehner, Harold W. Ephesians: An Exegetical Commentary. Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2006.
Hawthorne, Gerald F. dan Ralph P. Martin (eds.), Dictionary of Paul and His Letters. Downers Groove, Illinois: InterVarsity Press, 1993.
Jacobs, Tom. Paulus: Hidup, Karya, dan Teologinya. Yogyakarta: Kanisius, 1983
Keck, et al.,Leander E. The New Interpreter’s Bible: A Commentary In Twelve Volumes. Nashville: Abingdon Press, 2000.

Lincoln, Andrew T. Ephesians. Word Biblical Commentary Volume 42. Nashville: Thomas Nelson Publishers, 1990.

Marshall, I. Howard. New Testament Theology: Many Witnesses, One Gospel. Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 2004.

Martin, Ralph P. Ephesians, Colossians, and Philemon: Interpretation. Louisville: John Knox Press, 1991.
O’ Brien, Peter T. The Letter to the Ephesians, The Pillar New Testament Commentary. Leicester: Apollos, 1999.

Schreiner, Thomas R. New Testament Theology: Magnifying God in Christ. Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2008.

Stott, John R.W. Efesus: Mewujudkan Masyarakat Baru Di Dalam Dan Melalui Yesus Kristus. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2003.

Thielman, Frank. Theology of the New Testament: A Canonical and Synthetic Approach. Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2005.

_____ Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 1: A-L. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1995.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar