Jumat, 04 Juni 2010

Kotbah: Kejadian 39

Ketaatan {Kejadian 39:1-23}

Pendahuluan
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, ketaatan adalah sesuatu yang saat ini terbilang langka. Ketaatan yang umumnya dianut oleh orang dunia adalah ketaatan karena ingin mendapatkan reward atau takut akan hukuman. Ketaatan juga bisa terjadi karena terpaksa tanpa disertai suatu kesadaran dari dalam diri.

Saya pernah menyaksikan sebuah Iklan yang mengisahkan seorang wanita yang mengendarai mobil berani melanggar aturan karena tidak ada polisi yang bertugas. Si wanita sekilas ragu-ragu apakah akan memutar atau tidak. Padahal, di depannya terpampang jelas rambu lalu lintas dilarang berputar.Tetapi, karena si wanita tadi berpikir tidak ada polisi, dia akhirnya nekat berputar arah. Tak lama setelah berputar,dari semak-semak terdengar suara peluit. Seorang polisi berkacamata hitam dengan kumis tebal tiba-tiba muncul. Sikap si polisi sebagaimana umumnya petugas, sopan. Memberi hormat dan menanyakan si wanita mengapa melanggar aturan.
”Siang Mbak….nggak lihat rambunya?” tanya si polisi. ”Lihat Pak,”jawab si wanita.”Lalu kenapa masih dilanggar?”kembali si polisi bertanya. ”Kan…nggak ada yang jaga…..,” begitu si wanita menjawab polos.
Iklan singkat tadi dapat menjadi gambaran bagaimana kondisi moral orang-orang yang hidup pada masa kini. Taat jika ada yang memperhatikan atau jika itu dapat menguntungkan diri individu yang bersangkutan.

Saudara-Saudara yang dikasihi Tuhan, menarik bahwa ketaatan menjadi sesuatu yang mudah diucapkan dan diajarkan secara teori tetapi sukar dipraktikkan. Dari iklan singkat tadi, bukankah hal tersebut adalah cerminan cara hidup manusia saat ini atau bahkan mungkin tidak menutup kemungkinan hal yang nyaris sama juga kita lakukan ? Seseorang yang terkenal taat pun ada yang jatuh karena adanya “toleransi” yang kebablasan atau berubah karena faktor materi dan kesenangan yang dunia tawarkan. Bagaimana sebenarnya sikap kita sebagai orang percaya di dalam memandang hal ini? Sebagai orang percaya, apakah ketaatan itu bersyarat atau tidak? Apalagi dalam hal ketaatan kepada Allah? Kita akan sama-sama belajar dari seorang tokoh Perjanjian Lama yang memiliki integritas dan ketaatan yang mutlak kepada Allah di tengah dunia yang cenderung mengabaikan ketaatan kepada Sang Khalik. Mari kita membuka Alkitab kita dari Kejadian 39:1-23.

Isi
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, kalau kita memperhatikan narasi ini, setidaknya ada beberapa adegan yang muncul. Pertama, ketika Yusuf untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Mesir. Setelah nyaris dibunuh oleh saudara-saudaranya, Yusuf dijual kepada pedagang Midian. Yusuf telah dibawa ke negeri yang asing baginya. Bayangkan jika saudara tersesat di tempat yang belum pernah anda datangi sebelumnya? Rasa takut, kuatir, panik dan cemas meliputi kita. Sms atau telepon sedapat mungkin kita lakukan untuk meminta pertolongan dari orang-orang terdekat kita. Apalgi kita perlu ingat di sini bahwa Yusuf datang dalam status sebagai budak, bukan turis yang sedang tersesat. Ia tentu sangat ketakutan. Siapa yang dapat menjamin hidupnya? Ia cuma seorang budak. Seperti barang dagangan yang murah . Ia berada di tanah Mesir. Tentu saja ia merasa asing di negeri asing. Yusuf tentu saja asing dengan bahasa Mesir. Ia belum berpengalaman. Hal ini kontras dengan keadaannya sebelumnya. Dahulu ia adalah seorang anak kesayangan ayahnya. Kemungkinan besar ia menjalani hidup yang nyaman dan menyenangkan. Sekarang ia bukan siapa-siapa. Dia seperti anak orang kaya yang menjadi anak jalanan dan tanpa tempat tinggal.

Penulis kitab Kejadian mengatakan Ia kemudian dibeli oleh seorang pejabat istana Mesir yang bernama Potifar dari si pedagang Midian. Sebagai pedagang, tentu ia tidak memikirkan lagi nasib barang dagangannya. Yang penting ia telah memperoleh keuntungan. Barang dagangan yang ia bawa telah berpindah tangan dan kini ia tinggal menikmati uang yang diperolehnya. Potifar yang membeli Yusuf diidentifikasikan sebagai kepala pengawal raja atau kepala algojo. Yang jelas ia adalah seorang yang berpengaruh di lingkungan kerajaan Firaun. Tetapi yang menarik adalah Penulis kitab Kejadian mengatakan Yusuf mampu menyesuaikan diri dan tidak hanya itu, ia bahkan berkembang dalam situasi tersebut. Alkitab tidak menceritakan bagaimana Yusuf menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat ia tinggal. Tetapi yang jelas, Allah memampukan dia sehingga mampu beradaptasi bahkan mengetahui budaya dan bahasa Mesir. Dan hal tersebut adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Alasan yang muncul dikatakan dalam sebuah frase “TUHAN menyertai Yusuf”, pernyataan demikian berulang kali muncul dalam kisah Yusuf dan khusus dalam perikop ini, frase yang nyaris sama ini muncul empat kali. Dua kali muncul di awal kisah (ayat 2 dan 3) dan dua kali muncul di akhir perikop ini (ayat 21 dan 23). Konsep ini muncul di awal dan akhir kisah, seakan-akan menyiratkan bahwa penyertaan TUHANlah yang berperan penting dari awal sampai akhir. Dari hal ini nampak jelas bahwa Allah Israel terlibat erat dalam kehidupan Yusuf. Ia juga memberikan hikmat kepada Yusuf sehingga dapat mengerti bahasa Mesir. Ia juga yang memberikan kasih di mata Potifar sehingga Yusuf mampu mengambil hati tuannya. Sudah jelas, Allah adalah rahasia kesuksesan Yusuf. Yusuf tidak meminta kasih dari Potifar, tetapi ia mendapat kasih dari Potifar oleh karena Tuhan. Yusuf bahkan diberikan kekuasaan oleh tuannya. Suatu perkara yang tidak biasa. Dari sekian banyak budak Potifar, ia terpilih menjadi orang kepercayaan. Sangat mungkin bahwa Yusuf adalah budak yang cakap dan berhikmat, jika tidak mana mungkin ia mendapat kepercayaan sebesar itu. Kejadian 39:6: “Segala miliknya (Potifar) diserahkannya pada kekuasaan Yusuf, dan dengan bantuan Yusuf ia tidak usah lagi mengatur apa-apa pun selain dari makanannya sendiri.” Mengapa Potifar tetap mengurus makanannya sendiri? Dalam Kej 43:32 dikatakan bahwa orang Mesir tak boleh makan dengan orang Ibrani, karena bagi mereka itu adalah ‘kekejian’. Bersama dengan kesuksesan, datang pula kepercayaan dari tuannya. Seorang budak telah mendapatkan hak untuk dipercayai dan dihormati. Dengan istilah kasarnya, “Potifar hanya perlu duduk dan makan, semua sudah diatur oleh Yusuf. Ia tinggal terima beres.” Seorang kepala pengawal yang sangat sibuk itu benar-benar tertolong dan bebannya menjadi sangat ringan. Ia benar-benar terlayani dengan sangat baik oleh seorang budak yang baik.
Yusuf telah menikmati posisi yang nyaman. Dari seorang budak, sekarang ia naik derajat menjadi orang kepercayaan. Akan tetapi, benarlah kalimat yang mengatakan “pencobaan-pencobaan yang menyertai keberhasilan jauh lebih besar daripada pencobaan-pencobaan yang menyertai penderitaan.” Kejadian 39:6 mengatakan “Adapun Yusuf itu manis sikapnya dan elok parasnya.” Kata-kata yang digunakan untuk menjelaskan penampilan Yusuf ini ditemukan hanya empat kali dalam Perjanjian Lama: untuk Yusuf, Saul, Daud, dan Absalom. Yusuf digambarkan sebagai sosok pria yang ideal. Tetapi kelebihannya ini justru mendatangkan masalah bagi dirinya.

Penulis kitab Kejadian mengatakan “selang beberapa waktu” menunjuk kepada ayat-ayat sebelumnya yang menceritakan mengenai kesuksesan Yusuf.
Isteri Potifar jatuh hati kepadanya dan tanpa malu ia mengajak Yusuf untuk tidur dengan dia. Tetapi Yusuf dengan tegas menolak hal tersebut. Ayat 8 mengatakan ia dengan singkat dan jelas menolak hal tersebut. Bagaimana ia bisa melakukan hal tersebut? Pertama, kesetiaannya pada tuannya. Ia berkata kepada wanita ini, “Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku, bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya.”
Kedua, karena kesetiaanya kepada Allah. “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah? " (Kejadian 39:9). Perhatikan kalimat ini, ....berbuat dosa terhadap Allah. Yusuf tidak melakukan tindakan bejat itu karena takut berbuat dosa terhadap Allah. Berbeda dengan orang zaman sekarang, mereka tidak melakukannya karena takut ketahuan dosanya, bukan karena takut terhadap dosa itu sendiri. Potifar bisa tidak tahu, tetapi Allah pasti tahu! Karena itu ia tetap menolak sekalipun mereka sedang sendirian. Masalahnya adalah istri Potifar menolak untuk mendapatkan jawaban “tidak”. Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Yusuf taat. Ia dicobai bukan cuma sekali tetapi berhari-hari! Ayat 11a menunjukkan bahwa godaan ini tidak hanya terjadi satu kali saja. Istri Potifar membujuk Yusuf hari demi hari. Berbeda dengan Yehuda yang sekali saja diperdaya Tamar lalu jatuh ke dalam perzinahan, Yusuf tetap konsisten menolak ajakan istri Potifar. Jika saudara berpikir bahwa sekali pencobaan itu ditolak ia akan segera menghilang, anda keliru karena anda justru menjadi target yang lebih besar bagi si penggoda. Karena itu tidaklah mengherankan jika istri Potifar terus mengejar-ngejar Yusuf dengan tidak putus-putusnya. Alkitab mengatakan “Walaupun dari hari ke hari perempuan itu membujuk Yusuf, Yusuf tidak mendengarkan bujukannya itu untuk tidur di sisinya dan bersetubuh dengan dia.” Penulis kejadian mengontraskan dua tokoh yang bertolak belakang karakternya di dalam kisah ini. Yusuf yang memiliki integritas dengan isteri Potifar yang amoral. Yusuf, seorang yang takut akan Tuhan menjaga dirinya dan menjunjung tinggi kehidupan yang bermoral. Hal itu sangat kontras dengan isteri Potifar yang tidak peduli dengan kesucian perkawinannya dan harga diri sebagai seorang majikan, yang penting keinginannya terpenuhi. Lebih dari itu, Yusuf tidak mau bersama-sama dengan dia. NIV: he refused to go to bed with her or even be with her (= ia menolak untuk tidur dengan dia, atau bahkan bersama dengan dia). Yusuf tidak mau dekat-dekat dengan pencobaan, dan ini adalah sesuatu yang penting dalam mengalahkan godaan jenis ini.
Setelah berhari-hari usaha wanita tersebut gagal, penulis kitab Kejadian mengisahkan bahwa pada suatu hari Yusuf tengah bekerja seperti biasanya dan penulis kejadian menggambarkan keadaan rumah itu sepi. Tidak ada seorang pun di sana. Nampaknya isteri Potifar telah mengatur segala sesuatunya agar ia bisa berduaan saja dengan Yusuf karena seorang yang kaya tentunya memiliki banyak pelayan. Tetapi pada hari itu, tidak ada pelayan di ruangan tersebut. Tibalah saat yang paling kritis bagi Yusuf. Saat itu tidak ada satu orang pun yang berada di rumah. Ini adalah kesempatan yang paling baik bagi istri Potifar. Kali ini dia tidak hanya mengajak atau membujuk, tetapi dia langsung memegang baju Yusuf. Tetapi Yusuf berespon dengan lebih keras. Yusuf lari keluar meninggalkan bajunya di tangan wanita tersebut. Isteri Potifar cerdik dan memanfatkan lengangnya keadaan rumah. Tidak ada orang. Tidak akan ada yang tahu jika Yusuf menuruti keinginan majikannya ini. Tetapi apa yang dilakukan Yusuf? Ia lari! Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, firman Allah juga memerintahkan kita untuk lari dari pencobaan dan godaan seksual. Alkitab tidak menyuruh kita untuk berunding dengan pencobaan itu. Jika kita mencoba untuk berunding dengannya, atau merasionalisasikannya, kita akan menyerah. Kalah. Kita diperintahkan untuk lari!! Terlalu banyak kompromi akan membuat kita menurunkan standar moral yang Allah berikan untuk kita.Yusuf taat kepada Allah. Tentunya pada saat itu belum ada hukum Taurat. Bahkan ketika hukum Taurat sudah diberikan, masih banyak umat yang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri. Yusuf sebenarnya bisa melakukan hal tersebut tanpa diketahui oleh orang lain selain dirinya sendiri dan isteri Potifar. Tetapi Yusuf menyadari Allah mengetahui segala sesuatu, tidak ada yang tersembunyi di hadapanNya dan ia bertekad untuk taat kepadaNya.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, saat ini banyak orang melakukan pelanggaran karena merasa tidak ada yang melihatnya. Atau melakukan hal yang baik supaya dilihat orang. Tetapi Allah melihat hati dan tidak ada yang tersembunyi di hadapanNya. Melakukan pelanggaran dengan berpikir semua orang juga begitu atau ah, tidak ada yang lihat kok. Atau seperti klip singkat tadi melanggar lalu lintas karena tidak ada polisi yang melihatnya. Buang sampah karena tidak ada yang melihat. Mencuri juga karena tidak ada yang melihat. Dengan kata lain, taat karena semata-mata takut akan hukuman.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, hawa nafsu isteri Potifar berubah menjadi kemarahan yang sangat. Dengan marah ia kemudian memutarbalikkan fakta dan mengarang cerita bahwa Yusuf telah mencoba untuk memperkosanya. Ada beberapa alasan mengapa istri Potifar memfitnah Yusuf. Pertama, merasa jengkel / merasa terhina karena ajakannya ditolak. Kedua, mungkin ketika Yusuf lari ke luar ada budak-budak lain yang melihatnya dan lalu masuk dan melihat istri Potifar dengan jubah Yusuf di tangannya. Ia lalu memfitnah Yusuf seakan-akan Yusuf berusaha memperkosanya. Ia bahkan mempersalahkan suaminya yang sudah membawa Yusuf ke rumah itu (ayat 14 dan 17). Ia tidak berkata ‘mempermainkan saya’ tetapi ‘mempermainkan kita’ Tujuannya jelas supaya Potifar menjadi marah dan menghukum Yusuf.
Banyak penafsir mengatakan sesungguhnya Potifar tidak sungguh-sungguh marah kepada Yusuf tetapi ia marah karena ia telah kehilangan budak kepercayaannya. Potifar sesungguhnyamengetahui kelakuan isterinya yang tidak setia tetapi ia berada dalam posisi yang sulit, ia akhirnya harus mengambil keputusan. Itu sebabnya ia hanya memasukkan Yusuf ke dalam penjara tempat para tahanan raja. Jika Potifar murka kepada Yusuf, niscaya ia akan dieksekusi pada saat itu juga sebab orang Mesir sulit menoleransi hal tersebut.
Tetapi kalau Potifar tidak percaya kepada istrinya, mengapa ia menghukum Yusuf? Ada beberapa kemungkinan. Pertama, ia tak bisa membuktikan ketidak-benaran kata-kata istrinya. Kedua, lebih mempercayai kata-kata budak dari pada istri adalah sesuatu yang tidak mungkin ia lakukan. Ketiga, ia tidak mau mempermalukan dirinya sendiri. Tetapi tentu saja ini adalah sikap yang salah!
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Yusuf akhirnya masuk ke dalam penjara tetapi mari kita perhatikan Kejadian 39:21-23: “Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu. Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya. Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil.”
Cerita ini kembali ditutup dengan frase “Tetapi Tuhan menyertai Yusuf dan apa yang dikerjakannya berhasil.” Hal ini ditegaskan kembali oleh penulis kitab Kejadian. Inilah kunci keberhasilan Yusuf, bukan semata-mata usaha dan kepintarannya, tetapi ada penyertaan Tuhan di dalamnya. Tetapi hubungan itu timbal balik. Yusuf juga menaati Allahnya. Mungkin Yusuf sempat berpikir kenapa Allah tinggal diam dan membiarkan orang yang taat kepadaNya menderita. Yusuf baru saja merasakan kenyamanan ketika derajatnya terangkat. Ia bahkan hidup cukup senang. Tetapi kenikmatan itu terlalu cepat berlalu. Kesenangan itu kembali berubah menjadi kesengsaraan. Ia kembali terjatuh ke lubang. Bukan lagi lubang sumur yang dalam melainkan lubang penjara. Bahwa Yusuf yang saleh bisa masuk penjara karena menolak ajakan berzinah, menunjukkan bahwa orang yang hidup saleh bisa menerima upah yang sangat tidak sesuai / tidak adil! (1Pet 4:14-16 Mat 5:10).

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, siapapun yang berada dalam situasi seperti itu pasti akan timbul suatu pertanyaan di dalam hatinya, mengapa.Yusuf tentu sudah banyak mendengar cerita dari orang tuaNya tentang Allah Yahweh yang setia kepada Abraham, nenek moyangnya, Ishak kakeknya, dan Yakub ayahnya. Tetapi sekarang ia mendapati Allah yang tinggal diam. Allah yang tidak ada. Yusuf jelas tidak bersalah, ia justru menjauhkan diri dari dosa dan kesalahan. Ia menolak godaan yang datang padanya berkali-kali. Tetapi yang ia dapatkan adalah ketidak adilan.
Tetapi Yusuf tidak merasa getir dan marah, ia justru melayani Allah dalam situasi apa pun. Sebagai hasilnya, ia berkembang-bahkan di dalam penjara. Ia kembali menjadi “kesayangan”. Hal yang menarik: Ia menjadi kesayangan Bapanya, kesayangan Potifar, bahkan kesayangan kepala penjara. Di mana pun ia berada, ia jadi kesayangan!!! Menjadi kesayangan bahkan saat di dalam penjara. Kalau zaman sekarang banyak orang yang dipenjara tetapi jadi kesayangan karena uang. Tetapi Yusuf tidak. Orang lain yang melihat buah dari kehidupan Yusuf sehingga Allah menanamkan rasa sayang itu kepada Yusuf. Ketaatan adalah kunci keberhasilan Yusuf. Ia tidak mau berkompromi dengan dosa. Saat ini kita hidup di dalam dunia yang berdosa. Ada begitu banyak tawaran yang menggiurkan tetapi bertentangan dengan kehendak Allah. Tidak mustahil saudara dan saya juga menerima godaan itu dari orang-orang disekitar kita. Mungkin anda adalah satu-satunya orang yang tidak “melakukannya.” Kalau begitu, jadilah orang satu-satunya. Kalau masih ada kontrol sosial, maka orang kan merasa ragu untuk melakukan pelanggaran karena malu dilihat orang. Tetapi bagaimana jika tidak ada orang lain yang melihat kita? Semua orang mungkin mengatakan korupsi adalah hal yang lumrah pada zaman ini karena pada dasarnya semua orang melakukannya. Beberapa anak-anak muda mungkin akan mengajak temannya pesta narkoba dengan pernyataan manis “semua orang melakukannya. Tidak ada salahnya mencoba.” Tetapi di saat itu kita dipanggil jadi teladan di tengah zaman yang makin bengkok ini. Justru ketika kita mulai membuka celah kecil, godaan yang datang akan semakin banyak. Dan jangan lupa bahwa biasanya berawal dari membiarkan yang “kecil-kecil” itulah sebenarnya kita sedang membiarkan sebuah lubang besar terbentuk. Dan ujungnya adalah bencana. Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Charles Swindoll memiliki pernyataan yang menarik di dalam menyikapi kisah Yusuf ini: “Dalam sebuah dunia di mana iman sedang memudar dan integritas jarang ditemukan, hidup Yusuf dalam Perjanjian Lama bersinar bak bintang yang cemerlang di langit yang kelam, yang memperlihatkan kepada kita bahwa mengikuti Allah akan memberikan harapan bahkan dalam keadaan yang paling buruk sekalipun.”

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Yusuf taat dan memiliki iman yang teguh kepada Allah yang ia percaya. Iman dan ketaatan bukanlah percaya yang membabi buta melainkan suatu tindakan percaya yang diambil karena kita mengenal siapa yang kita percayai. Yusuf tidak tahu bagaimana caranya, kapan dan di mana Allah akan bertindak. Tetapi ia tahu siapakah Allah yang ia percayai itu. Allah yang maha kuasa mampu berbuat dengan caranya, waktunya, dan tempatnya sendiri. Yang perlu ia lakukan adalah taat. Ketaatan adalah kunci untuk mengalami Allah. Allah menyediakan dengan caranya. ketaatan Yusuf tidak salah, harapannya tidak sia-sia. Apakah kunci kemenangan dari ujian yang berat? Ketaatan yang mutlak. Jadi jika saudara ingin menjadi pemenang, maka ketaatan adalah harga mati yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.

Penutup
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, masihkah kita taat ketika masalah kehidupan datang menghimpit seolah tidak ada jalan keluar? Sehingga kita mengambil jalan pintas? Masihkah kita taat saat tidak ada orang dan ada peluang bagi kita untuk berbuat curang karena berpikir tidak akan ada yang tahu? Saudara-saudara yang terkasih, lalu apa yang menjadi kunci agar kita dapat keluar sebagai pemenang? Mengandalkan Tuhan dan hidup bergaul dekat denganNya. Usaha manusia semata-mata hanya akan menemui jalan buntu, tetapi hanya dengan penyertaan Allah saja yang memampukan umatNya untuk keluar dari situasi yang paling sukar sekalipun. Allah yang maha kuasa mempunyai cara untuk menolong kita. Yang perlu kita lakukan adalah taat kepada kehendakNya. Dengan demikian kita dapat belajar meneladani Yesus Kristus, Juruselamat kita yang menjalani kehidupan dengan sikap yang taat dan tunduk secara total kepada Bapanya, bahkan taat sampai mati di kayu salib. Ketaatan adalah sesuatu yang dilakukan tanpa beban tetapi sebagai ungkapan syukur kepada Allah karena adanya persekutuan yang indah dengan Dia. Saudara-saudara yang terkasih di dalam Tuhan, saya selalu ingat akan perkataan seorang teman saya dan ingin saya bagikan kepada kita semua: “Marilah kita mengikut Tuhan kita bukan karena berkat atau takut akan hukuman melainkan karena kita mencintaiNya. ” Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar